Hubungan tanpa status (HTS) atau situationship sering kali dianggap sebagai hubungan yang tidak serius karena tidak memiliki komitmen yang jelas. Namun, ketika hubungan tersebut berakhir, banyak orang justru merasakan kesedihan yang mendalam, bahkan terkadang lebih menyakitkan dibanding putus dari hubungan resmi.

Para ahli menilai bahwa rasa sakit tersebut muncul bukan hanya karena kehilangan seseorang, tetapi juga karena kehilangan harapan dan masa depan yang selama ini dibayangkan bersama. Dalam hubungan tanpa status, seseorang kerap menggantungkan harapan bahwa hubungan tersebut suatu saat akan berkembang menjadi lebih serius. Ketika harapan itu pupus, yang hilang bukan hanya orangnya, tetapi juga berbagai kemungkinan yang pernah diimpikan. 

Selain itu, HTS biasanya dipenuhi ketidakjelasan. Tidak ada batasan yang tegas mengenai arah hubungan, sehingga banyak pertanyaan yang sering kali tidak terjawab. Ketika hubungan berakhir, seseorang sulit menemukan penjelasan atau penutupan (closure) yang memadai. Akibatnya, pikiran terus dipenuhi pertanyaan seperti "Apa yang salah?" atau "Bagaimana jika semuanya berbeda?" 

Rasa kehilangan juga menjadi lebih rumit karena hubungan tersebut sering kali tidak diakui secara sosial. Berbeda dengan putus dari pacar resmi yang umumnya mendapat dukungan dari teman dan keluarga, perpisahan dalam HTS terkadang dianggap tidak penting. Kondisi ini dikenal sebagai disenfranchised grief, yaitu kesedihan yang tidak mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar, sehingga proses pemulihan menjadi lebih berat. 

Psikolog juga menjelaskan bahwa perpisahan dapat memicu duka atas masa depan yang tidak pernah terjadi. Seseorang tidak hanya kehilangan pasangan, tetapi juga kehilangan gambaran kehidupan yang telah ia susun dalam pikirannya. Karena itulah, perpisahan dalam HTS sering meninggalkan luka emosional yang sulit dijelaskan. 

Meski terasa menyakitkan, penting untuk memahami bahwa perasaan sedih setelah berakhirnya hubungan tanpa status adalah hal yang wajar. Kedekatan emosional tidak ditentukan oleh label hubungan, melainkan oleh ikatan yang terbentuk antara dua orang. Oleh karena itu, memberi ruang bagi diri sendiri untuk berduka dan menerima kenyataan merupakan langkah penting untuk bisa bangkit dan melanjutkan hidup.